sumber twitter mark Dasar Lautan di Bumi Mulai Menghilang, Dalangnya Lagi-lagi Manusia Cetak halaman ini

Dasar Lautan di Bumi Mulai Menghilang, Dalangnya Lagi-lagi Manusia

Ditulis oleh  Ellisa Gunawan
Diterbitkan di edukasi
Dasar lautan Bumi terancam pemanasan global via scientificamerican.com
Dasar lautan Bumi terancam pemanasan global

Sumber.com –
Dampak perubahan iklim yang melanda Bumi kini telah sampai hingga ke dasar lautan. Emisi gas rumah kaca yang selama ini menyebabkan pemanasan global, dilansir dari Live Science, telah menguraikan sekaligus menghilangkan lapisan penting pada dasar lautan: Kalsium karbonat.

Bagian dasar lautan Bumi dilapisi oleh substansi yang bernama kalsium karbonat. Zat ini berasal dari cangkang para makhluk laut kecil seperti zooplankton yang sudah mati, dan tenggelam sampai ke dasr lautan.

Apakah Kawan Sumber tahu kalau lautan kita berfungsi sebagai penyerap karbon yang bersirkulasi di atmosfer Bumi? Karbon dapat membuat air lautan menjadi asam. Di lautan dalam (yang bertekanan tinggi), asam ini akan bereaksi dengan kalsium karbonat di dasar lautan. Saat reaksi kimiawi ini terjadi, karbon akan dinetralkan, lalu bikarbonat akan terbentuk.

Baca juga: Bangkok Berisiko Tenggelam dalam 10 Tahun ke Depan?

Fenomena ini sudah terjadi selama ribuan tahun lamanya. Mekanisme penyerapan karbon oleh lautan dunia bisa dibilang merupakan cara alami yang dilakukan Bumi untuk menyimpan karbon, tanpa mengganggu ekosistem laut.

Namun pada titik ini, manusia dan segala perilakunya mulai makin mengganggu mekanisme tersebut dan memperparah lingkungan laut dengan cara yang tak terduga.

Manusia, faktanya, membakar lebih banyak bahan bakar fosil dan menghasilkan emisi karbon dalam jumlah yang sangat masif ke udara. Akibatnya, karbon yang harus diserap lautan pun juga makin bertambah besar. Malah, menurut badan antariksa NASA, lautan Bumi telah menyimpan sekitar 48% kelebihan karbon yang dihasilkan dan dibuang manusia ke atmosfer.

Semakin banyak karbon di udara, semakin tinggi pula tingkat keasaman di lautan kita. Dengan kata lain, kalsium karbonat pada bagian dasar laut pun semakin cepat terkikis dan menghilang.

Laut berusaha sebisa mungkin untuk menangani hal ini, tapi kadar emisi karbon dioksida yang dihasilkan manusia sudah terlampau banyak, dan diproduksi dalam waktu yang sangat cepat. Pada akhirnya, laut tak lagi bisa mengimbangi kecepatan ini.  

Tak hanya menghilangkan lapisan kalsium karbonat. Laut yang tingkat keasamannya tinggi juga dipercaya dapat berefek negatif terhadap biota laut, mengikis terumbu karang, mempersulit makhluk laut kecil untuk membentuk cangkang, serta mengancam keselamatan zooplankton.

Tim peneliti yang dipimpin oleh ahli kelautan dan atmosfer Robert Key dari Princeton Univercity mencoba mencari tahu, seberapa cepat emisi karbon menghancurkan suplai kalsium karbonat yang terdapat di dasar lautan.

Pada studi yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, peneliti menggunakan data arus laut, pengukuran kalsium karbonan pada sedimen bebatuan dasar laut, salinitas laut, temperatur dan tolok ukur penting lainnya.

Semua data-data ini dibandingkan dengan data-data dari masa sebelum revolusi industri dunia.

Baca juga: Bhutan, Negara Karbon Negatif yang Berkontribusi Besar Perangi Pemanasan Global

Ada kabar baik dan kabar buruk dari penelitian Robert.

Kabar baiknya, sebagian besar area lautan masih belum memperlihatkan perubahan yang dramatis. Tapi kabar buruknya, beberapa titik lautan di Bumi terbukti telah terkena dampak dari pembuangan emisi karbon yang dilakukan manusia. Dan dampak ini sangat signifikan terasa, terutama di bagian barat lautan Atlantik Utara. Di sini, sebanyak 40-100% kalsium karbonat yang terdapat di bagian dasar laut telah terkikis dan menghilang – dalangnya adalah emisi karbon antropogenik.

Dan pengikisan kalsium karbonat oleh karbon pun terjadi dalam kurun waktu yang makin cepat, bahkan di level laut yang dangkal.  

Ada juga titik lainnya yang cukup mengkhawatirkan, namun masih belum separah lautan Atlantik, seperti di Samudera Hindia dan Atlantik Selatan. Deposit karbon yang berlimpah dan pergerakan arus dasar laut di sini makin mempercepat penguraian kalsium karbonat.

Sayangnya, peneliti masih belum mengetahui apa dampak fenomena ini terhadap hewan laut di lautan dalam. Tapi Smithsonian mengulas perbandingan fenomena ini dengan fenomena bencana alam yang terjadi pada 252 juta tahun yang lalu. Dulu, pernah terjadi beberapa fenomena erupsi gunung api besar – bencana ini meletuskan begitu banyak zat karbon dioksida ke udara, sehingga proses pengasaman lautan dunia pun terjadi dengan begitu cepat. Akibatnya? Lebih dari 90% hewan laut mengalami kepunahan di zaman itu.

Beberapa peneliti menyebut era waktu kita hidup sekarang ini sebagai era Anthropocene, yakni era di mana aktivitas manusia mulai mendominasi lingkungan Bumi. Jika kita tidak hati-hati, maka kita bisa jadi kembali mengulangi sejarah yang sama.

Baca juga: Tidak Hanya Fauna Laut, Tanpa Disadari Plastik Mikro Juga Termakan Oleh Manusia! Begini Buktinya
Baca 598 kali Terakhir diubah pada Selasa, 06 November 2018 22:50
Nilai Artikel ini
(0 pemilihan)

Terkini dari Ellisa Gunawan

Artikel Terkait

Seputar Penulis

Ellisa Gunawan