sumber twitter mark Menyoal Bebasnya Ba'asyir, Antara Sisi Kemanusiaan dan Ketaksetiaan Pada NKRI Cetak halaman ini

Menyoal Bebasnya Ba'asyir, Antara Sisi Kemanusiaan dan Ketaksetiaan Pada NKRI

Ditulis oleh  Ady Nugraha
Diterbitkan di hukum & politik

abu bakar baasyir akan dibebaskan dari penjara

Foto: Tribunnews

 

Sumber.com - Presiden Joko Widodo tampaknya lebih menilik sisi kemanusiaan ketimbang apa yang tercantum dalam konstitusi. Demikian yang tampak dalam perkara terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir yang akan segera dibebaskan.

 

Kepala Bagian Humas Dirjen PAS Kemenkumham Ade Kusmanto menegaskan bahwa Ba'asyir menolak meneken surat pernyataan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Padahal, salah satu cara untuk bebas adalah pengajuan bebas bersyarat yang diantaranya meneken perjanjian kesetiaan pada NKRI.

 

"Apabila diusulkan pembebasan bersyarat, menurut perhitungan dua per tiga masa pidananya,  yaitu pada 13 Desember 2018. Tetapi, saat ini belum diusulkan pembebasan bersyarat karena Ustaz Ba’asyir tidak mau menandatangani surat pernyataan kesetiaan kepada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)," kata Ade Kusmanto, Jumat (18/1/2019).

 

Ade menjelaskan, Ba’asyir sampai saat ini belum berkenan menandatangani surat pernyataan dan jaminan, sebagai salah satu persyaratan bebas bersyarat. Begitu pula soal usulan pembebasan bersyarat, juga belum diusulkan Kepala Lapas Gunung Sindur ke Ditjen Pas Kemenkumham.

 

Beberapa kemungkinan pembebasan Ba’asyir, kata Ade, pertama melalui bebas murni yaitu telah habis menjalani pidananya. Kedua, bebas bersyarat yaitu melalui program pembinaan integrasi sosial narapidana kepada masyarakat setelah menjalani dua per tiga masa pidananya.



"Ketiga, melalui grasi Presiden dengan alasan kemanusiaan," tambah Ade.

 

Dengan begitu, poin ketiga merupakan langkah yang ditempuh Jokowi dalam hal ini. Alasan kesehatan adalah salah satu pertimbangan. Pengacara Jokowi, Yusril Ihza Mahendra mengatakan alasan penolakan janji setia pada NKRI yang diucapkan Ba'asyir adalah karena dirinya hanya setia kepada Allah.

 

 “Saya hanya setia kepada Allah, saya hanya patuh kepada Allah, saya tidak akan patuh selain dari itu,” kata Yusril menirukan ucapan Ba’asyir. 

 

Yusril mencoba menjelaskan kepada Ba'asyir soal Pancasila yang menjadi falsafah Indonesia dan itu sejalan dengan Islam jika ditafsirkan sesuai prinsip Islam. 





“Jika Pancasila sejalan dengan Islam, kenapa tidak patuh kepada Islam saja?” kata Yusril menirukan Ba'asyir. 



Lantaran lantaran Ba'asyir terpidana terorisme, kata Yusril, maka setingkat Direktur Jenderal Pemasyarakatan tidak bisa memutuskan untuk pembebasan itu. Karena itu, ia berbicara dengan Jokowi sebagai pengambil keputusan tertinggi, sebab syarat pembebasan bersyarat diatur dalam Permenkumham. 



“Sekarang presiden ambil alih dan memiliki kebijakan. Artinya ia menyampingkan Permenkumham tersebut, kalau presiden sudah menyampaikan [memutuskan], maka selesai persoalan itu,” kata dia.

 

 

Baca 420 kali Terakhir diubah pada Minggu, 20 Januari 2019 09:20
Nilai Artikel ini
(0 pemilihan)

Terkini dari Ady Nugraha

Artikel Terkait

Seputar Penulis

Ady Nugraha

Seorang pria lulusan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Disamping aktif dalam dunia tulis-menulis, beliau juga menyukai fotografi dan sepakbola.

Facebook: Ady Nugraha