sumber twitter mark Sedang Mengonsumsi Antibiotik? Ketahui Efek Sampingnya Cetak halaman ini

Sedang Mengonsumsi Antibiotik? Ketahui Efek Sampingnya

Ditulis oleh  Ellisa Gunawan
Diterbitkan di kesehatan

Antibiotik via health.harvard.edu
Antibiotik via health.harvard.edu

Sumber.com –
Biasanya, dokter meresepkan obat antibiotik untuk menangani infeksi bakteri. Sebagian besar efek samping antibiotik tidak bersifat membahayakan, namun antibiotik nyatanya juga menyebabkan efek samping yang cukup parah, seperti anaphylaxis (reaksi alergi yang membahayakan nyawa).

Dilansir dari Medical News Today, antibiotik pada umumnya dapat menimbulkan sejumlah efek samping berikut ini.

Baca juga:  Ini Bahayanya Minum Obat Tanpa Meneguk Air

1. Masalah pencernaan

Masalah pencernaan menjadi salah satu efek samping yang paling sering terjadi pada mereka yang mengonsumsi antibiotik. Beberapa diantaranya adalah mual, gangguan pencernaan, muntah, diare, perut kembung, merasa kenyang, hilang nafsu makan hingga kram atau nyeri perut. Sebagian besar gejala ini akan berhenti saat kamu tak lagi mengonsumsi antibiotik.

Namun terkadang gejala ini menjadi semakin parah, seperti BAB berdarah, diare kronis, nyeri atau kram perut yang sangat intens, demam, muntah-muntah yang tak terkontrol.

2. Infeksi jamur

Antibiotik diciptakan untuk membunuh bakteri yang berbahaya. Tapi terkadang antibiotik juga membunuh bakteri baik yang melindungi kita dari infeksi jamur. Akibatnya, kita menjadi rentan terkena infeksi jamur di beberapa bagian tubuh.

Beberapa bagian tubuh yang dapat terinfeksi jamur adalah vagina, mulut dan tenggorokan.

Beberapa gejala infeksi jamur meliputi gatal-gatal, bengkak, dan sakit pada vagina. Vagina juga terasa nyeri saat berhubungan intim dan saat buang air kecil, atau mengeluarkan cairan yang aneh. Gejala infeksi jamur juga terlihat dari mulut dan tenggorokan: Lapisan putih dan tebal yang menutupi mulut dan tenggorokan, sakit saat makan atau menelan, bercak putih di tenggorokan, pipi, langit-langit mulut atau lidah, indera perasa tak berfungsi, hingga demam dan meriang.

3. Interaksi antar obat

Beberapa obat tertentu dapat berinteraksi dengan antibiotik (dan memengaruhi kinerjanya), seperti obat pengencer darah, pil KB, antasid, antihistamin (anti alergi), multivitamin dan sejumlah suplemen (yang tinggi akan zinc, zat besi dan kalsium), obat pereda nyeri, obat psoriasis, obat rematik artritis, diuretik, obat antijamur, obat diabetes, perileks otot, steroid, obat Parkinson’s, cyclosporine. Lithium, obat migrain, obat kolesterol dan antidepresi tricyclic.

Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, pasien perlu memberitahu dokter terkait semua obat-obatan yang sedang mereka konsumsi.

Baca juga: Hati-hati, 6 Langkah Pertolongan Pertama Ini Sering Kali Salah Dilakukan!

4. Fotosensitivitas

Banyak jenis antibiotik yang membuat kulit kita menjadi lebih sensitif terhadap matahari, alias fotosensitif. Guna menghindarinya, jangan berlama-lama di bawah paparan matahari, gunakan tabir surya ber-SPF tinggi dan berspektrum luas, lalu gunakan pakaian yang melindungi kulit dari matahari (lengan panjang, celana panjang dan topi).

5. Noda pada gigi dan tulang

Menurut estimasi, sekitar 3-6% orang yang mengonsumsi antibiotik tetracycline mengalami perubahan warna pada enamel gigi mereka. Noda ini tak dapat dihilangkan pada orang dewasa, karena gigi tak dapat berubah atau tumbuh kembali.

Noda juga bisa muncul di sejumlah tulang. Tapi, tulang terus memperbarui diri sehingga noda apa pun yang disebabkan antibiotik dapat dihilangkan.

Bicaralah dengan dokter apabila antibiotik yang kamu makan menyebabkan perubahan warna pada gigi, untuk mengganti jenis antibiotik tersebut.

Baca juga: Selaput Putih Pada Mata Pria Ini Berubah Warna Jadi Biru! Apa Penyebabnya?

Dalam efek samping yang lebih parah, antibiotik juga dapat menyebabkan reaksi alergi ekstrem yang disebut dengan anaphylaxis. Hal ini langka terjadi, namun penderita anaphylaxis biasanya akan mengalami detak jantung yang meningkat, ruam merah yang muncul di sebagian besar kulit (dan terasa gatal), pusing, bengkak di kuit, bengkak di mulut, wajah dan tenggorokan, batuk-batuk dan sulit bernapas, kejang-kejang hingga pingsan.

Biasanya, anaphylaxis dapat langsung dideteksi. Gejalanya terjadi dalam kurun waktu 15 menit hingga sejam setelah mengonsumsi antibiotik.

Kemudian, perlu diperhatikan bahwa sejumlah bakteri terkadang dapat menjadi lebih kebal terhadap antibiotik. Mereka tak merespons terhadap antibiotik, dan infeksi resistansi antibakteri ini bisa membahayakan nyawa. Untuk mengurangi peluang terjadinya hal ini, minumlah antibiotik sesuai arahan dokter, dan habiskan antibiotik bahkan setelah gejala sakitmu sudah hilang. Jangan pula memakan antibiotik yang diresepkan kepada orang lain.

Sebisa mungkin, hanya gunakan antibiotik jika diperlukan untuk infeksi bakteri. Atau, bicaralah kepada dokter terkait alternatif obat lain selain antibiotik. Jika kamu batuk atau pilek biasa, hindari memakan obat antibiotik.

Saat mengonsumsi antibiotik, sebaiknya Kawan Sumber tidak membelah antibiotik yang berbentuk obat pil atau tablet. Hindari mengonsumsi buah, jus jeruk, makanan berbahan dasar susu dan alkohol selama tiga jam setelah mengonsumsi antibiotik.

Jika antibiotik menyebabkan masalah yang menganggu, Kawan Sumber perlu berkonsultasi dengan dokter. Hentikan penggunaan antibiotik jika efek sampingnya sangat parah, dan pernapasanmu menjadi terganggu.

Baca juga: Catat, Inilah 6 Fakta Penting Tentang Demam yang Harus Kamu Tahu


Baca 583 kali Terakhir diubah pada Jumat, 24 Agustus 2018 15:28
Nilai Artikel ini
(0 pemilihan)

Terkini dari Ellisa Gunawan

Artikel Terkait

Seputar Penulis

Ellisa Gunawan